TUGAS EKONOMI KOPERASI II

KOPERASI SUKSES

I. Pendahuluan

Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (barat) dan negara berkembang memang sangat diametral. Di barat koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya.

Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi. Paling tidak dengan dasar yang kuat tersebut sejarah perkembangan koperasi di Indonesia telah mencatat tiga pola pengembangan koperasi. Secara khusus pemerintah memerankan fungsi regulatory dan development secara sekaligus (Shankar 2002). Ciri utama perkembangan koperasi di Indonesia adalah dengan pola penitipan kepada program yaitu : (i) Program pembangunan secara sektoral; (ii) Lembaga-lembaga pemerintah; dan (iii) Perusahaan baik milik negara maupun swasta. Sebagai akibatnya prakarsa masyarakat luas kurang berkembang dan kalau ada tidak diberikan tempat semestinya.

Padahal sesuai dengan UUD 1945 pasal 33, Koperasi mempunyai peranan yang sangat penting karena Koperasi merupakan “sokoguru” dari perekonomian bangsa. Dari artian tersebut tegas bahwa koperasi diyakini bisa menjadi alat untuk mensejahterakan semua lapisan masyarakat (tujuan dan fungsi koperasi).

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiataannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan (UU  No 25 tahun 1992). Hal ini menguatkan arti penting koperasi yaitu sebagai gerakan ekonomi yang berdasar kekeluargaan, dimana inti dari gerakan koperasi ini adalah menciptakan suatu kekuatan ekonomi yang bisa menyokong lapisan masayarakat namun sesuai dengan adab bangsa kita yaitu harmonisasi kekeluargaan.

II. Kemanfaatan dan Pengembangan Koperasi

Untuk menumbuhkembangkan koperasi saat ini banyak tantangan walaupun potensi ekonomi pada koperasi sangat besar. Pesaing pasar global adalah musuh yang bisa menghambat berkembangnya koperasi di bangsa ini. Perlunya komitmen bersama antara pemerintah dan masayarakat sangat diharapkan mampu menjadi kekuatan untuk lebih meningkatkan peran fungsi koperasi.

Tidak hanya itu sebuah koperasi juga harus mempunyai kekuatan atau passion internal untuk berkembang, untuk itu dibutuhkan menajerial yang kuat di dalamnya. Setidaknya ada 5 asas kewirausahaan yang harus dimiliki oleh anggota koperasi untuk mengembangkan koperasinya, yaitu :

–          Kemauan yang kuat untuk berkarya dan mandiri

–          Kemampuan untuk memecahkan masalah dan pengambilan keputusan dalam setiap risiko

–          Kreatif dan inovatif

–          Bekerja secara, teliti, tekun dan produktif

–          Keinginan untuk berkarya dalam kebersamaan berlandaskan bisnis yang sehat.

Secara teori koperasi mempunyai kemampuan yang potensial untuk berkembang dalam kehidupan masyarakat karena koperasi tidak hanya memberikan kemanfaatan ekonomi tetapi juga perhatian dan kepedulian terhadap aspek sosial. Hal inilah pembeda antara perusahaan dengan koperasi secara langsung. Jika hal ini terus dijaga maka bisa dipastikan banyak masyarakat yang akan menjadi anggota koperasi sehingga bisa mendorong kemajuan sekaligus aspek sosial seperti yang diharapkan.

Dalam konteks yang lebih besar koperasi bisa menjadi wahana koreksi bagi masyarakat, dan pelaku bisnis dalam memecahkan kegagalan pasar karena adanya kondisi yang kurang sehat. Koperasi selalu hadir dari dalam (indeep) dalam artian koperasi akan selalu hadir walapun keadaan pasar dalam kondisi gagal karena sumber dari kekuatan koperasi adalah kemampuan dalam mewujudkan keuntungan tidak langsung atau tidak hanya keuntungan dalam artian ekonomi saja tetapi juga secara sistem dalam kesejahteraan sosial dalam masyarakat.

III. Contoh Koperasi Sukses

Koperasi simpan pinjam Trisula

Salah satu koperasi yang ada di Kabupaten Majalengka yang cukup terkenal ini patut menjadi contoh perkoperasian di Indonesia. Koperasi Trisula yang terletak di Cisambeng Kecamatan Palasah ini dijadikan contoh koperasi yang sukses dalam bidang usaha Simpan Pinjam nya. Pada awalnya koperasi Trisula ini hanya memiliki aset sekitar Rp. 300.000.000,- dengan berbekal manajemen yang bagus akhirnya koperasi Trisula yang berada di Kecamatan Palasah ini akhirnya sudah bisa mendapatkan pinjaman sampai dengan Milayaran.

Berawal dari keprihatinan terhadap kesejahteraan petani, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Trisula didirikan. Kini, KSP Trisula menjadi sandaran ribuan petani di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat

Petani_perempuanPendirian KSP Trisula ini tidak lepas dari Koperasi Unit Desa (KUD) Trisula. Saat itu, pada 1980-an, pengurus KUD Trisula berpandangan, petani adalah kelompok bawah yang selalu kalah oleh sistem dan politik ekonomi. Petani tidak bisa menentukan harga produk pertanian karena sudah diatur para tengkulak. Di sisi lain, kebutuhan pupuk, bibit, dan obatobatan terus naik dengan harga yang ditentukan oleh para pedagang. Petani lemah dan tak memiliki daya tawar.

Atas dasar itu, KUD Trisula membuka unit simpan pinjam (USP) dengan modal awal Rp42.000, hasil iuran simpanan pokok 42 anggota pada 1983. Harapannya, USP ini bisa membantu petani dari sisi permodalan dan kebutuhan sehari-hari. Semangat kebersamaan terus dipupuk hingga jumlah anggota terus bertambah. Pada 2004, anggota USP mencapai 300 orang dengan nilai simpanan pokok Rp15 juta.

Dana itu terus digulirkan ke anggota, tetapi perputarannya lambat karena keterbatasan modal. Kemudian, pengurus USP berupaya mengajukan bantuan keuangan ke perbankan dengan harapan mendapatkan tambahan modal. Setelah berkonsultasi ke perbankan, akhirnya pengurus USP membentuk badan hukum dengan nama KSP Trisula pada 5 Agustus 2004. Nama Trisula adalah kependekan dari “Tertib Rapi Indah Sehat Usaha Lancar Aman”.

Badan hukum telah dibentuk, tapi pengurus KSP Trisula tetap kesulitan mendapatkan bantuan dari bank. Akhirnya, pengurus KSP menggelar kegiatan panen perdana yang dihadiri sejumlah pejabat di Jawa Barat yang diselingi paparan tentang KSP Trisula. Esok harinya, perwakilan beberapa bank mendatangi kantor KSP Trisula di Kecamatan Palasah, Majalengka, menawarkan pinjaman.

KSP Trisula terus tumbuh. Hingga saat ini, dana yang dipinjamkan kepada sekitar 5.000 anggotanya telah mencapai puluhan miliar rupiah per tahun. Tidak mengherankan bila KSP Trisula menjadi gantungan petani di Kecamatan Palasah, Majalengka, bahkan juga bagi penduduk di luar kecamatan ini. Keberhasilan KSP Trisula tak lepas dari tangan dingin Subani. Petani lulusan sekolah dasar (SD) inilah yang menjadi pionir usaha koperasi yang berlokasi di Majalengka tersebut.

Kini, Subani memang tengah terbaring sakit. Namun,saat sehat, semangat Subani tak kalah dengan yang muda. Abah, demikian dia biasa disapa, masih rutin menghadiri berbagai pertemuan yang diadakan di Majalengka. Dia juga kadang menyempatkan diri menghadiri undangan seminar dan berbagai acara koperasi. Salah satu kunci keberhasilan Abah adalah kepiawaian dalam merekrut anggota koperasi.

Hal yang kerap dilakukan Abah, untuk memikat hati calon anggota koperasinya adalah selalu memberikan gula dan teh gratis kepada penduduk yang hadir dalam pertemuan koperasi. Ketika akan merekrut anggota baru koperasi, Abah selalu membawa 100 bungkus gula dan teh. Cara ini ternyata manjur. Tak mengherankan, tiap kali Abah mengadakan pertemuan selalu ramai. Ibaratnya ada gula ada semut. Bagi KSP Trisula, kekuatan koperasi yang sesungguhnya adalah anggota, bukan modal.

Selain itu, kelangsungan hidup koperasi juga ditentukan oleh kemampuan para pengurusnya dalam membuat program-program. Yang juga tidak kalah penting adalah disiplin dari para anggota, terutama dalam melunasi pinjaman. Melalui penerapan manajemen seperti itu, KSP Trisula pun mampu memikat dunia perbankan dalam pengembangan usaha. Bank Negara Indonesia (BNI) akhirnya mengucurkan kredit senilai Rp1 miliar dalam upaya pengembangan usaha koperasi.

Pinjaman itu digulirkan ke anggota koperasi dengan sistem pembiayaan yang bervariasi, mulai dari sistem bagi hasil, tunda jual, dan sebagainya. “Kami memberikan pinjaman dengan sistem tunda jual, maksudnya para petani bisa mendapatkan uang dengan cara menyimpan hasil pertaniannya dengan tidak perlu menjualnya apabila harga produk pertanian sedang murah. Setelah harga mengalami kenaikan, para petani bisa menjualnya langsung lalu pinjaman pokok dibayar dan sisanya dibagi dua dengan koperasi,” terang Ketua KSP Trisula Khoeruman.

Pinjaman itu secara sungguh-sungguh dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal oleh pengurus KSP Trisula. Hal ini ditunjukkan dengan pembayaran yang tidak pernah telat.

Mereka berpedoman pada pohon beringin, apabila pohonnya rindang, siapa pun orangnya akan berteduh di pohon itu. Prinsip ini terus dijaga pengurus KSP Trisula sejak kepengurusan Subani hingga Khoeruman. Koperasi yang awalnya hanya dikelola tiga orang dan kini memiliki 20 karyawan itu telah menerima pinjaman hingga Rp20 miliar. Pinjaman itu selalu dikembalikan tepat waktu.

“Belum selesai pinjaman dibayar, kami sudah diberi tambahan pinjaman. Hingga sekarang ini, kami diberi bantuan pinjaman sebesar Rp20 miliar dari BNI. Alhamdulillah, kami belum pernah telat membayar,” ujar Khoeruman.

Kini Khoeruman bersama koperasinya sudah bisa menempati kantor representatif di kompleks KUD Trisula, Jalan Raya Palasah, Desa Cisambeng, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dalam rangka mengembangkan KSP Trisula, pihaknya terus berupaya menjalin kerja sama dengan berbagai instansi, baik pemerintah maupun nonpemerintah. Di antaranya, KSP Trisula akan bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas.

“Kami akan mendanai seluruh biaya tersebut, lalu pengelolaannya akan bermitra dengan para kelompok petani ternak sapi. Hasilnya,sebagian akan diberikan kepada petani dan sebagian masuk kas KSP,” terang Khoeruman.

IV. Kesimpulan

Koperasi adalah sokoguru dari perekonomian bangsa kita, dimana fungsi dan perannya sangat penting baik dari segi ekonomi dan sosial. Namun dalam perkembangannya banyak sekali tantangan yang muncul, seperti akan adanya globalisai atau pasar bebas dan otonomi. Koperasi ini bisa bertahan dengan adanya dukungan baik dari pemerintah dan masayarakat. Prinsip kehematan bisa menjadi kekuatan untuk mempertahankan eksistensi koperasi selain dengan adanya pelatihan dan peningkatan keterampilan (kewirausahaan) dari setiap anggota dan pengurus koperasi.

Daftar pustaka :

–          http://www.indonesiaindonesia.com/f/8619-koperasi-indonesia-potret-tantangan/

–          Meredith G. 2000. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo

–          http://ksptrisulamajalengka.blogspot.com/2010/08/ksp-trisula-sejahterakan-ribuan-petani.html

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s